KONSEP STOCK VALUATION DALAM BURSA SAHAM - jurnal|lembu

#Gilainvest #Gilanonton

Search My Blog?

Post Top Ad

KONSEP STOCK VALUATION DALAM BURSA SAHAM


Melakukan Stock Valuation
sumber:http://www.wealthindonesia.com/stock-market/melakukan-stock-valuation.html

Valuasi saham adalah tata cara / metode / prosedur untuk mendapatkan nilai atas saham dari suatu Perusahaan. Shannon Pratt mengajarkan bagaimana kita melakukan valuasi saham. Ada tiga pendekatan yang bisa digunakan yaitu Net Assets Approach, Market Approach dan Income Approach, yang bisa dipilih dengan memperhatikan karakteristik obyeknya. Dalam valuasi saham, perlu diperhatikan tujuan valuasi. Sehingga penggunaan metode, analisis dan penerapan unsur-2 pembentuk nilai serta hasil valuasi tepat guna.

Sebelum melakukan investasi di saham (stock) ada baiknya kita terlebih dahulu mengetahui kinerja dari saham tersebut.  Untuk itu kita dapat menggunakan stock valuation yaitu metode untuk menilai stock (saham). 










Ada beberapa model untuk melakukan stock valuation:

1. PE Ratios
Profitabilitas dicerminkan dalam Price to Earning Ratio (PE Ratio) yang seringkali digunakan oleh pelaku pasar untuk menilai suatu stock/saham.
PE Ratio =        Harga saham                 Pendapatan per saham
Misalnya PE ratio adalah 12, maksudnya adalah saham tersebut akan menghasilkan pendapatan (earning) sebesar 12 kali. Biasanya saham-saham blue chip memberikan PE ratio yang tinggi didasarkan oleh potensi pendapatan tahun berjalan. 
2. Dividend Yields
Sebagai hasil dari investasi, biasanya saham akan membayarkan dividen kepada para pemegang saham.
Dividend Yield = Dividend per saham x 100
                                    Harga saham
Biasanya dividend yields bagi para investor akan dibandingkan dengan bunga yang diberikan oleh bank. Misalnya seorang investor risk taker jika menabung di bank memberikan bunga sebesar 5-6% pertahun dan bebas resiko, namun jika menginvestasikan uang dalam bentuk saham yang mungkin memberikan yield sebesar 8% akan lebih menguntungkan bagi investor dibandingkan menaruh uangnya di bank walaupun berinvestasi di saham mungkin akan memberikan resiko yang lebih besar. 
3. Holding Stocks
Ketika membeli saham, biasanya investor akan menahan saham tersebut minimum untuk 6 bulan, idealnya sekitar 1 – 3 tahun dan seringkali dalam jangka waktu yang lama. Pertumbuhan usaha yang baik dengan cara terus mengembangkan dan memberikan keuntungan yang semakin besar akan membuat para pemegang saham tetap menahan sahamnya di satu perusahaan.  (Yenni Salim)
 
 
 

Dividen dan Valuasi Saham

Minggu, 23 September 2012 10:20 wib
Nilai dari semua aset adalah present value (PV) dari semua arus kas aset itu di masa datang. Untuk obligasi, arus kas itu adalah pembayaran periodik kupon obligasi, yang dapat setiap bulan (Obligasi Ritel Indonesia/ ORI dan sukuk ritel), tiga bulan (obligasi korporasi), atau enam bulan (surat berharga negara), dan pembayaran pokok saat jatuh tempo.

Sementara untuk saham, nilainya dapat dihitung dari PV semua dividen tunai di masa datang yang dibayarkan kepada para pemegang saham. Untuk properti, valuta asing, waralaba, ruko, dan aset lainnya juga menggunakan prinsip yang sama seperti valuasi saham dan obligasi.

Agar mempunyai nilai, sebuah aset tidak harus memberikan penghasilan setiap tahunnya. Bisa saja arus kas itu hanya terjadi sekali saja seumur hidupnya, yaitu saat dijual atau saat jatuh tempo seperti investasi dalam emas dan obligasi tak berbunga.

Khusus aset yang arus kasnya konstan secara terus-menerus atau berkembang dengan tingkat pertumbuhan yang stabil, kita mempunyai persamaan persamaan pamungkas untuk menentukan nilainya. Untuk aset dengan arus kas tidak konstan, terputus, atau pola lainnya, belum ada persamaan matematika untuk menghitung nilainya secara langsung.

Kita harus melakukannya satu per satu dengan teknik DCF (discounted cash flow) atau arus kas yang didiskontokan. Jika persamaan matematika dan teknik DCF untuk menilai aset itu diterapkan untuk saham, kita mengenal konsep divident-discount model (DDM), yang sering digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam analisis fundamental. Untuk memahami model ini, saya akan memberikan beberapa ilustrasi berikut.

Aplikasi Perpetuitas

Pertama, berapakah nilai atau harga wajar sebuah saham yang baru saja memberikan dividen Rp300 jika dividen ini diperkirakan akan konstan di masa datang? Asumsikan tingkat return yang diharapkan investor untuk memegang saham ini, berdasarkan capital asset pricing model (CAPM) atau model lainnya, adalah 15 persen dan investor berniat untuk memegangnya terus-menerus.

Jawabannya adalah nilai = (dividen/ tingkat return yang diharapkan) atau Rp300/15 persen = Rp2.000. Jika dividen tahun ini belum dibagikan, nilai saham itu akan menjadi Rp2.000 ditambah dividen tahun ini atau Rp2.300. Jika besar dividen atau tingkat return yang diharapkan berubah, nilai saham tentunya juga akan berubah. Ini adalah contoh perpetuitas biasa yaitu anuitas biasa dengan periode waktu tak terhingga.

Dividen Bertumbuh

Variasi lain adalah jika perusahaan, karena sedang dalam tahap pertumbuhan, belum dapat membayarkan dividen hingga lima tahun pertama. Baru pada tahun ke-6 dan seterusnya, dividen sebesar Rp300 akan dibayarkan.

Berapakah nilai saham yang menjanjikan perpetuitas ditunda seperti ini? Jika return yang diharapkan tetap 15 persen, logikanya, nilai saham itu adalah Rp2.000 lima tahun lagi. Berapa nilainya sekarang, kita tinggal mendiskontokannya. Menggunakan return yang diharapkan sebagai tingkat diskonto,nilai saham saat ini adalah Rp2.000/(1+15%)5= Rp994.

Terakhir, jika saham di atas menjanjikan dividen yang bertumbuh sebesar 10 persen per tahun, berapa nilai atau harga wajarnya? Asumsikan dividen tahun ini sudah dibayarkan. Dividen tahun depan adalah Rp300 (1+10 persen)=Rp330, tahun berikutnya Rp363, demikian seterusnya.

Persamaan untuk ini adalah nilai atau harga wajar saham adalah P=D1/-(k–g),yang dikenal sebagai model pertumbuhan Gordon di mana g adalah tingkat pertumbuhan dan D1 adalah dividen tahun depan. Asumsi yang harus dipenuhi dalam persamaan Gordon ini adalah g bersifat stabil dari tahun ke tahun.

Nilai saham ini menjadi P = Rp330/(15% – 10%) = Rp6.600. Jika dividen tahun ini sebesar Rp300 belum dibayarkan, saham itu menjadi bernilai Rp6.900. Jika Anda mau, dapat saja menggunakan asumsi lain seperti perpetuitas bertumbuh ditunda yaitu bertumbuh seperti di atas tetapi pembayaran pertamanya enam tahun lagi dan sebesar Rp330.

Jika demikian, nilainya adalah Rp6.600 tetapi itu masih lima tahun lagi. Nilainya sekarang adalah PV dari Rp6.600 atau Rp3.281. Sekarang jelaslah sudah faktor-faktor yang menentukan nilai sebuah saham. Dalam contoh di atas, apakah nilainya Rp2.000, Rp2.300, Rp994, Rp6.600, Rp6.900, atau Rp3.281 tergantung besar dan timing dividen, risiko yang dicerminkan dengan return yang diinginkan investor, dan tingkat pertumbuhan dividen.

Metode Lain

Yang juga perlu Anda ketahui sebagai investor saham adalah arus kas untuk penilaian saham itu tidak hanya dividen, tetapi dapat juga arus kas lainnya seperti arus kas bersih untuk perusahaan (free cash flow to the firm) dan arus kas untuk ekuitas (free cash flow to equity). Namun, metode valuasinya tetap sama yaitu tergantung besar dan timing arus kas, return yang diharapkan, dan tingkat pertumbuhan arus kas.

Valuasi saham berdasarkan analisis fundamental pun tidak hanya mengenal teknik DCF. Masih ada metode residual income atau nilai tambah ekonomi (economic value added - EVA) dan pendekatan lain yang juga populer yaitu menggunakan kelipatan harga seperti PER (price earning ratio), P/BV (price to book value), dan PEG (price earning growth).

***************

Sumber:http://finance.detik.com
Jakarta - Banyak rekan-rekan yang bertanya pada saya, baik melalui akun twitter saya @pakarsaham ataupun melalui Training Trading Profits yang saya adakan, apakah sebaiknya kita membeli saham yang sedang turun tajam harganya, atau saham yang pergerakan harganya sedang berada dalam tren naik ?

Kedua strategi dalam berinvestasi saham ini seringkali menimbulkan pro dan kontra. Banyak investor yang suka membeli ketika harga saham terdiskon besar-besaran. Strategi ini disebut dengan value investing. Seorang value investor membeli saham berfundamental bagus ketika harganya terdiskon besar. Ibarat membeli barang bermerek dan berkualitas dengan harga sangat murah.

Strategi value investing yang juga pernah saya ulas dalam blog saya, sebenarnya sangat bagus, namun sayangnya investor harus menunggu cukup lama. Diskon besar-besaran atau crash dalam saham hanya terjadi selama beberapa tahun sekali bahkan 10 tahun sekali. Diskon besar pada pasar saham terjadi tahun 1998 dan 2008. Sanggupkah Anda menunggu 10 tahun?

Butuh waktu bertahun-tahun untuk menunggu sebuah saham yang bagus terdiskon besar-besaran. Demikian pula untuk menjualnya, dibutuhkan waktu yang cukup lama pula, bertahun-tahun bahkan belasan tahun.

Warren E Buffett dulunya adalah seorang value investor sejati. Ia belajar pada Benjamin Graham, si bapak Value Investing. Namun belakangan, sekitar era 60-an, Buffett merevisi strateginya dengan perpaduan Growth Investing karena pertumbuhan beberapa saham yang ia beli dengan metode Value Investing sangat lelet. Adalah Philip Fisher yang menjadi inspirator Warren E Buffett untuk merevisi strateginya dengan perpaduan Growh Investing. Apa itu Growth Investing ?

Growth investing adl strategi investasi saham dengan mencari growth stock atau saham yang bertumbuh/labanya bertumbuh. Saham yang bertumbuh itu ibarat negara berkembang. Perusahaan ini sedang bertumbuh & umumnya belum teruji dlm jangka panjang. Growth Stock biasanya memimpin saham-saham lain di sektornya.

Namun saham-saham tersebut tidak selamanya memimpin dengfan konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa growth stocks punya rewards dan resiko setahap di atas income stocks dan value stocks.

Value Investor merupakan contrarian, memborong saham ketika yang lain panik, berbeda halnya dengan Growth Investor. Seorang Growth Investor memborong saham ketika terjadi optimisme dalam market, bukan pesimisme. Saham-saham bertumbuh/growth stocks yang bisa ditemui di bursa umumnya harganya sudah menanjak naik. Namun walaupun harganya sudah tinggi, harga saham emiten yang bertumbuh bisa menjadi lebih tinggi lagi.

Banyak orang yang menganggap para Growth Investor itu aneh karena membeli saham-saham yang harganya terus naik. Namun, bukankah seharusnya demikian? Saham yang layak dikoleksi adalah saham-saham yang harganya terus naik. Seorang growth investor membeli market's confidence! Bukan market's fear.

Perusahaan yang berkembang harga sahamnya bisa tumbuh dua kali lipat dlm 3-7 tahun, rata-rata per tahun tumbuh 10%-30%. Lalu, bagaimana caranya memilih growth stocks/saham-saham yang sedang bertumbuh? Untuk memilih growth stock, kita bisa menggunakan kriteria pemilihan saham terbaik berdasar sektornya dulu.

Setelah menemukan sektor yg sedang memimpin pada masa tersebut, cek laba/pendapatan perusahaan. Caranya, cek dari rasio EPS dan ROE-nya. Kedua rasio tersebut menunjukkan pendapatan/laba perusahaan. EPS singkatan dari Earnings Per Share artinya laba per lembar saham setelah dipotong pajak. ROE adalah Return on Equity.

Saham yang bertumbuh EPS kuartal terakhir sebaiknya tumbuh minimal 15% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan EPS pada growth stock tersebut sebaiknya terjadi secara konsisten dalam 5 tahun berturut-turut, tidak hanya sesaat.

ROE saham yang bertumbuh sebaiknya tumbuh 20% selama lima tahun terakhir berturut-turut. Angka ROE yang bagus adalah di atas 20%. Jika ROE di bawah 7 % maka laba perusahaan tersebut tidak lebih baik dari bunga deposito. Selain itu sebaiknya perusahaan yang bertumbuh itu rajin melakukan ekspansi atau inovasi.

KLBF atau PT Kalbe Farma, Tbk adalah sebuah contoh yang sangat apik dan memenuhi kriteria-kriteria di atas. Selain EPS dan ROE-nya bagus, Kalbe juga sangat rajin berinovasi dengan memunculkan produk-produk terbaru dan ekspansi lainnya, seperti membuat Kalbe Institute bersama Bina Nusantara University.

Nah, sebaiknya growth stock dibeli segera setelah muncul sinyal bahwa ia masih tumbuh di masa depan. Sinyalnya apa ya? Umumnya secara teknikal,saham bertumbuh/growth stock sangat uptrend. Sinyal yang biasanya muncul adalah break out. Tentang break out, bisa dibaca pada artikel saya sebelumnya di sini.

Saham jenis ini sebaiknya dijual bila muncul tanda2 tidak mampu mempertahankan tingkat pertumbuhannya dalam jangka panjang atau ada tanda uptrend berakhir secara teknikal. Rentang waktu growth investing biasa berkisar 1-2 tahun, lebih kecil daripada rentang vaktu Value Investing.

Jadi investor tidak perlu menunggu terlalu lama untuk membeli atau menjual sebuah saham, sekaligus mendapatkan keuntungan maksimal. Jadi bagi Anda yang merasa terlalu lama untuk melakukan value investing, bisa mencoba strategi Growth Investing.

Nah, tunggu apa lagi, ayo mulai berinvestasi saham. Sebelum Anda mulai trading/investasi saham sebaiknya persiapkan diri Anda dengan mempelajari buku Smart Traders Not Gamblers.

Salam profit, Ellen May

*) Ellen May, Penulis buku Best Selling Smart Traders Not Gamblers, praktisi pasar modal.



Memahami Valuasi Saham dengan Visualisasi

Posted on May 22, 2012 by



1 Votes


Jika Anda sudah membaca artikel tentang metode valuasi saya di: http://parahita.wordpress.com/2008/11/15/bagaimana-cara-menentukan-harga-wajar-saham/ , penjabaran visualnya ada pada gambar di atas.
Sumbu vertikal adalah harga saham sedangkan sumbu horisontal adalah waktu. Sejalan dengan growth, harga saham akan terus naik dari tahun ke tahun kemudian kita cari rate kenaikannya untuk mendapatkan harga saat ini. Rate kenaikan tersebut itu yang disebut dengan expected return.
Cara pandang lain adalah dengan mencari present value dari total price 5 tahun mendatang sehingga kita mendapatkan fair value untuk saat ini. Jika pada harga saham saat ini masih terdapat Margin of Safety (Mos)  yang cukup, besar kemungkinan saham tersebut layak untuk dikoleksi.
Jika dilihat lebih detil, terlihat bahwa selama harga saat ini (actual price) masih di bawah 5 yrs target total price, maka kita masih akan mendapatkan keuntungan walaupun tentu saja dengan rate of return lebih rendah. Kesimpulannya, semakin rendah harga beli kita, semakin besar potensi keuntungannya (ya iyalah…).
Gambar di atas menunjukkan skenario dari sebuah valuasi. Tingkat keberhasilannya sangat bergantung pada akurasi asumsi inputnya. Beberapa titik kritis dalam melakukan valuasi adalah:
  1. Kestabilan growth. Semakin stabil historical growth, semakin besar peluang sebuah saham akan berperilaku sama ke depannya. Perusahaan biasanya bisa mempertahankan growth sampai dengan 25% dalam jangka panjang namun untuk keperluan valuasi sebaiknya ditekan ke 15% saja.
  2. Akurasi penentuan risk premium. Risk premium akan menentukan seberapa besar diskon kita atas nilai saham.
  3. Harga pembelian. Untuk menghindari kesalahan perhitungan dan asumsi, sebaiknya kita menyediakan MoS yang cukup.
  4. Perhatikan historical PER. Usahakan untuk bersikap sekonservatif mungkin. Asumsi PER yang terlalu tinggi akan menyebabkan kita terjebak ketika pasar berperilaku esktrim (misalnya pada saat terjadi booming atau crash).



Klik link dibawah ini untuk mengetahui visualisasi Stock Valuation
http://parahita.wordpress.com/2012/05/22/memahami-valuasi-saham-dengan-visualisasi/

http://www.saham.us/index.php/belajar-saham/investor-fundamental/4313-valuasi-saham-dengan-garp


Post Top Ad