jurnal|lembu

jurnal|lembu

WWW.LEMBUTAMBUN.COM

Post Top Ad

Post Top Ad

Youtube

HARGA SAHAM TERMURAH PT Wijaya Karya Beton Tbk Rp 197/lembar saham

July 10, 2020
PT Wijaya Karya Beton, Tbk. didirikan sebagai salah satu perusahaan anak BUMN PT Wijaya Karya Tbk. pada tahun 1997 dengan visi untuk menjadi perusahaan terkemuka di industri produk beton pracetak di Asia Tenggara. Saat ini WIKA Beton merupakan produsen beton pracetak terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara.




Read More

BURSA EFEK INDONESIA MEMBUKA LOWONGAN KERJA UNTUK SEMBILAN POSISI DI TUJUH BILANG YANG ADA DI BURSA SAHAM

July 07, 2020

Indonesia Stock Exchange (IDX) is a Self-Regulatory Organization that providing infrastructures to enable fair, orderly, and efficient securities trading whilst accessible to all stakeholder. Our vision is to be a competitive Stock Exchange with world class credibility. In order to achieve our vision & mission and to support Indonesia Capital Market Development.

Vision

To become an Acknowledge and Credible World-Class Exchange.

Mission

Provide infrastructures to enable fair, orderly, and efficient securities trading whilst accessible to all stakeholder.

Core Values

Teamwork, Integrity, Professionalism, Service Excellence

Core Competencies

Building Trust, Integrity, Strive for Excellence, Customer Focus

we invite best people to fill the following positions:

LINK: https://indonesiastockexchange.urbanhire.com/#content--jobs
Read More

#BEREDARDIWHATSAPP Bikin KK yang hilang

July 01, 2020
Dimohon bantuan untuk pengurus RW dan pengurus RT untuk memberi edukasi kepada warganya:

Pengurusan KK dan Akta (Lahir/Mati) harap mencantumkan *nomor telepon dengan WhatsApp aktif*

Supaya petugas dapat mengirim softcopy KK dan/atau Akta ke nomor warga tersebut.

Jadi, jika dokumen KK/Akta hilang/rusak, warga bisa *secara mandiri melakukan pencetakan*

Demikian. Terima kasih.
Read More

#BEREDARDIWHATSAPP Ironi kekayaan saat pandemi Covid-19 🙈

June 23, 2020


Baru saja Harvard mengeluarkan hasil riset pola belanja masyarakat kelas atas dan kelas bawah di Amerika. Saat "Reopen Economy" awal Juni lalu dimana bisnis mulai dibuka kembali, ternyata ditemukan beberapa hal mengejutkan. 

25% orang terkaya Amerika yang termasuk kelas atas secara sosial ekonomi masih mengerem gaya hidupnya jauh dari gaya belanja sebelum Covid-19 walaupun secara finansial mereka masih punya cukup income dari berbagai sumber dan tabungan uang tunai. Orang orang kaya ini masih sangat berhati hati dan melihat Covid19 sebagai ancaman jangka panjang untuk ekonomi. Restauran di sekitar area perumahan mewah masih sepi. Termasuk pengiriman dropship kesana pun belum normal seperti dulu.

Sementara golongan orang termiskin Amerika yang termasuk kelas bawah sosial ekonominya begitu dibuka kembali ekonomi naik pula pengeluarannya. Hampir menyamai pengeluaran sebelum Covid-19. Mereka mulai memenuhi restoran disekitar area mereka. Bahkan uang bantuan keuangan dari pemerintah rata-rata sudah habis, banyak dari mereka yang pengeluaran naik drastis ketika mendapat tambahan bantuan keuangan. Yang menarik banyak keluarga miskin disini mendapatkan bantuan uang lebih dari 2x pendapatan rata-rata keluarganya perbulan tapi tetap habis. Kenapa? Ternyata uang bantuan itu masuk kategori "easy come easy go". Sesuatu yang mudah didapatkan mudah pula dihabiskan. 

Di Amerika mereka yang kehilangan pekerjaan akan mendapatkan "bantuan pengangguran" USD 2,400/orang/bulan atau sekitar 34 juta/orang/bulan. Masih ditambah bantuan "stimulus ekonomi" sekitar USD 1,200 atau sekitar 17 juta perorang (untuk 3 bulan terakhir). Saya asumsikan kurs dollar ke rupiah sekitar 14 ribuan.

Kita coba hitung ya. Misal satu keluarga terdiri dari ayah, ibu dan dua anak. Maka bantuan yang didapatkan sekitar 2 x 34 juta = 68 juta ditambah 2 x 17 juta = 34 juta. Bantuan untuk keluarga tersebut perbulan 68 juta (atau sekitar 204 juta untuk 3 bulan) ditambah 34 juta bonus bantuan untuk 3 bulan. Jika dibagi rata maka perbulan diterima bantuan sekitar 79 jutaan perkeluarga selama 3 bulan karantina ketat. Catatan: asumsi kedua orang tua sebelumnya bekerja dan sekarang menganggur. 

Untuk biaya hidup (makan, listrik, air, jajanan, dll) pengalaman saya hidup disini 25 juta perbulan cukup untuk sekeluarga (dibandingkan di Indonesia udah termasuk makan enak). Jika bantuan yang diterima sekitar 79 jutaan dikurangi pengeluaran dasar 25 jutaan maka masih ada sisa 54 jutaan untuk lainnya. Misal bayar sekolah, sewa rumah, dll. Bahkan sebenarnya dari uang bantuan pemerintah bisa masih ada sisa ditabung jika....gak ada cicilan. Dan tidak perlu keluar rumah untuk dipaksakan kerja karena bantuan dari pemerintah lebih dari cukup jika....gak ada kreditan.

Pelajaran dari sini apa?

🌸 Kaya itu soal mentalitas 🌸 

Bertambahnya penghasilan bukan jaminan bertambahnya kekayaan secara otomatis karena kekayaan itu tergantung dari berapa banyak dari penghasilan yang kita investasikan. Banyak orang terjebak dalam lingkaran kemiskinan karena ketika penghasilan naik, naik pula pengeluaran gaya hidupnya. Naik pula kreditannya mulai dari baju, mobil, rumah, dll, untuk memenuhi gaya hidup "terlihat kaya".

Benar kata pepatah:

🌸 Money cannot buy you a class 🌸

Hanya karena kita dapat rejeki nomplok bukan berarti kita langsung masuk kelas atas orang kaya secara otomatis. Banyak cerita pemenang lotere jutaan dollar kembali jatuh miskin setelah foya foya. Menjadi orang kaya kelas atas membutuhkan ilmu. Mempertahankan kekayaan pun butuh ilmu. Dan tentu saja harus memiliki mental kaya terlebih dulu.

Semangat menuju #financialfreedom

Love from USA,
Dewi Kreckman
Read More

Butuh Internet utk Anak,Guru dan Dosen?

June 15, 2020
Rekan2 bantu viralkan ya, kalo ada tetangga kita yg kurang mampu, butuh inet buat anak anaknya or buat guru/dosen yg masih honorer , bisa dikasih link ini :
—-
Paket Pelajar/Mahasiswa
—-
https://www.indihome.co.id/learning-from-home

Paket Guru/Dosen
https://www.indihome.co.id/indihome-paket-guru
Read More

#BEREDARDIWHATSAPP NEW NORMAL adalah MATINYA HIPERREALITA

June 03, 2020
Tulisan ini bagus, sayangnya tidak ada nama penulisnya...

===========

NEW NORMAL adalah MATINYA HIPERREALITA

Pertama2 saya akan bilang New Normal ini sebenarnya adalah back to normal. Justru kehidupan kemarin itu yg abnormal.

Kedua, saya akan cerita apa itu hiperrealita? Sederhananya ketika anda beli segelas kopi di Starbucks seharga 40an ribu. Mengapa segelas kopi bisa begitu mahal? Anggaplah harga dasar kopi itu 7 ribu, maka 33 ribu sisanya anda membayar harga sewa sofa outlet dan membeli simbol Starbucks. Angka 33 ribu itulah hiperrealita. Sebuah kondisi mental yg menganggap sesuatu itu nyata dan kita butuhkan melebihi kebutuhan dasar kita sendiri.

(fyi istilah hiperrealita diperkenalkan oleh filsuf Prancis bernama Jean Baudrillard dalam bukunya tentang Simulacra)

Kita sesungguhnya tidak akan menemui hiperrealita sedahsyat kemarin andai saja tidak ditemukan yg namanya facebook, instagram, twitter, dan teman2nya.

Tiba2 datanglah covid19. Mendadak kita semua takut keluar rumah, takut berkerumun, aktivitas di luar dibatasi. Apa2 serba dari rumah. Lalu bagaimana nasib para hiperrealista? (sebutan saya untuk pelaku hiperrealita)

Starbucks sepi, kafe sepi, mall sepi. Tidak ada orang yg meng-uplod imej2 mereka di outlet2 pendongkrak citra diri itu. Masihkah relevan kebutuhan akan luxury, prestise dan status hari ini? Masih mungkinkah kita membutuhkan itu? Atau kita langsung ke puncak pertanyaannya : masihkah dibutuhkan hal2 seperti itu hari ini ?

Pandemi covid19 ini ibarat tombol reset. Sekali ditekan langsung semua berbondong2 menuju ke titik awal. Kita sudah merasakan PSBB, di mana pada masa itu kita diarahkan untuk melakukan segala hal yg kita butuhkan saja. Ini kabar buruk untuk usaha seperti pariwisata, hotel, mall, kafe2 dan semua usaha yg menjadikan CITRA, LUXURY atau PRESTISE sebagai core/inti bisnisnya.

'Pembatasan sosial' itu adalah hantu bagi usaha2 tadi. Di mana letak kesalahannya kalau begitu?

Benarkah kehidupan sosial benar2 dibatasi ?

Sebetulnya tidak salah. Karena yg terjadi sesungguhnya bukanlah pembatasan sosial tetapi mengembalikan kehidupan sosial kita ke titik yg wajar ketika kehidupan sosial kita sudah benar2 overdosis (40k for a glass of coffee??)

Kesalahannya adalah Starbucks dkk, membasiskan bisnisnya kepada materi yg imajiner (citra, luxury, prestise, status). Kalau anda mengira Starbucks dkk itu menjual minuman/makanan sebetulnya tidak. Bisnis mereka adalah jual-beli simbol. Simbol akan berubah menjadi status manakala kehidupan sosial manusia didorong sampai puncak di luar kebutuhan wajar manusia, dan ketika ruang manusia untuk saling bertemu hancur lebur seperti hari ini, saat itulah simbol2 itu runtuh nilai jualnya.

Apakah ini pertanda buruk? Yap ini pertanda buruk, yg menunjukan betapa lugunya kita kemarin selama ini, rutin bekerja 8 jam sehari dan 5 hari seminggu hanya untuk mengongkosi kebutuhan imajiner (hiperrealita) kita. Kemarin itu kita benar-benar dijauhkan dari apa yg benar-benar kita butuhkan. Kita malah membiayai ilusi.

New Normal, adalah runtuhnya sebuah abnormalitas dan kembalinya sebuah kehidupan normal. Sebelum revolusi industri, kehidupan itu relatif sangat normal. manusia setara bekerja untuk kebutuhannya. Ketika 'ngopi' mereka ya ngopi untuk menghilangkan penat. Kedai kopi pun sebagai ruang publik untuk saling guyub berinteraksi, bukan ruang halusinasi atau untuk menyendiri. Selesai ngopi kembali ke kehidupannya (bukannya pindah kasta). Upah yg mereka dapat pun untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Bukan untuk 'membeli' merek atau simbol.

Ketika kondisi “normal” di atas dihantam kejadian luar biasa seperti pandemi, kemungkinan tidak akan se-dramatis seperti yg terjadi hari ini. Hari ini ribuan pekerja menggantungkan hidupnya pada bisnis imajiner seperti mall, Starbucks dkk. Bisa terbayang efek domino kehancurannya.. runtuh satu sirna banyak. Ribuan pekerja terancam kehidupannya seiring hilangnya pekerjaan mereka. Mereka terasing dari pekerjaannya sehingga merasa bukan siapa2 dan tidak berdaya ketika hilang profesinya.

Sudah waktunya dunia2 usaha imajiner itu merombak plan bisnisnya ke usaha2 yang nyata (riil) dan beradaptasi bila ingin survive hari ini. Alih2 mempertahankan bisnis yg sama seolah2 kita masih hidup di dunia kemarin (gagal move on)

New Normal adalah sebuah terapi psikis dan efek kejut bagi kita untuk memikirkan ulang, untuk introspeksi betapa rapuhnya kehidupan sosial kita kemarin bak jaring laba2 besar. Tertata, tersistem dan terstruktur rapih dan massif tetapi tidak kita sadari begitu rapuh dan labil ketika sebuah batu menimpanya.

New Normal mendorong kita untuk fokus dan mengefisiensikan tenaga dan pikiran kita untuk hal-hal yg kita butuhkan saja. Dan petunjuk atas matinya kebutuhan2 halusinasi kita. Seolah2 hidup kita serba dicukupkan. Kita didorong memikirkan kembali apa yg benar-benar kita butuhkan. Kembali ke jati diri dan fungsi diri kita yg nyata.

It's all done. We' are shifting.
Change or we die. Get real.
Dunia kita yg kemarin sudah mati

Dunia hari ini ibarat sebuah rumah sakit yg besar. Dan kita tergeletak di dalamnya dan hanya berpikir untuk tetap sehat dan tetap hidup. Pernah lihat orang selfie saat tergeletak sekarat di rumah sakit? Itulah matinya hiperrealita!

Jika Baudrillard di tahun 80an lalu sudah memikirkan kondisi hiperrealita, sesungguhnya saat itu dia sudah melihat bahaya dan sedang menyalakan simbol SOS (save our soul) itu kepada kita agar kita lekas sadar dan menyelamatkan diri bahwa kita berdiri di atas bom waktu.

New Normal..?? Welcome normal life...
Keep waras.. Keep alive 💪💪💪
Read More

Facing Post Covid-19 Business World

Post Top Ad