#BEREDARDIWHATSAPP Ironi kekayaan saat pandemi Covid-19 🙈 - jurnal|lembu

WWW.LEMBUTAMBUN.COM

Post Top Ad

PERESMIAN KEBIJAKAN BANTUAN KUOTA DATA INTERNET TAHUN 2020

#BEREDARDIWHATSAPP Ironi kekayaan saat pandemi Covid-19 🙈



Baru saja Harvard mengeluarkan hasil riset pola belanja masyarakat kelas atas dan kelas bawah di Amerika. Saat "Reopen Economy" awal Juni lalu dimana bisnis mulai dibuka kembali, ternyata ditemukan beberapa hal mengejutkan. 

25% orang terkaya Amerika yang termasuk kelas atas secara sosial ekonomi masih mengerem gaya hidupnya jauh dari gaya belanja sebelum Covid-19 walaupun secara finansial mereka masih punya cukup income dari berbagai sumber dan tabungan uang tunai. Orang orang kaya ini masih sangat berhati hati dan melihat Covid19 sebagai ancaman jangka panjang untuk ekonomi. Restauran di sekitar area perumahan mewah masih sepi. Termasuk pengiriman dropship kesana pun belum normal seperti dulu.

Sementara golongan orang termiskin Amerika yang termasuk kelas bawah sosial ekonominya begitu dibuka kembali ekonomi naik pula pengeluarannya. Hampir menyamai pengeluaran sebelum Covid-19. Mereka mulai memenuhi restoran disekitar area mereka. Bahkan uang bantuan keuangan dari pemerintah rata-rata sudah habis, banyak dari mereka yang pengeluaran naik drastis ketika mendapat tambahan bantuan keuangan. Yang menarik banyak keluarga miskin disini mendapatkan bantuan uang lebih dari 2x pendapatan rata-rata keluarganya perbulan tapi tetap habis. Kenapa? Ternyata uang bantuan itu masuk kategori "easy come easy go". Sesuatu yang mudah didapatkan mudah pula dihabiskan. 

Di Amerika mereka yang kehilangan pekerjaan akan mendapatkan "bantuan pengangguran" USD 2,400/orang/bulan atau sekitar 34 juta/orang/bulan. Masih ditambah bantuan "stimulus ekonomi" sekitar USD 1,200 atau sekitar 17 juta perorang (untuk 3 bulan terakhir). Saya asumsikan kurs dollar ke rupiah sekitar 14 ribuan.

Kita coba hitung ya. Misal satu keluarga terdiri dari ayah, ibu dan dua anak. Maka bantuan yang didapatkan sekitar 2 x 34 juta = 68 juta ditambah 2 x 17 juta = 34 juta. Bantuan untuk keluarga tersebut perbulan 68 juta (atau sekitar 204 juta untuk 3 bulan) ditambah 34 juta bonus bantuan untuk 3 bulan. Jika dibagi rata maka perbulan diterima bantuan sekitar 79 jutaan perkeluarga selama 3 bulan karantina ketat. Catatan: asumsi kedua orang tua sebelumnya bekerja dan sekarang menganggur. 

Untuk biaya hidup (makan, listrik, air, jajanan, dll) pengalaman saya hidup disini 25 juta perbulan cukup untuk sekeluarga (dibandingkan di Indonesia udah termasuk makan enak). Jika bantuan yang diterima sekitar 79 jutaan dikurangi pengeluaran dasar 25 jutaan maka masih ada sisa 54 jutaan untuk lainnya. Misal bayar sekolah, sewa rumah, dll. Bahkan sebenarnya dari uang bantuan pemerintah bisa masih ada sisa ditabung jika....gak ada cicilan. Dan tidak perlu keluar rumah untuk dipaksakan kerja karena bantuan dari pemerintah lebih dari cukup jika....gak ada kreditan.

Pelajaran dari sini apa?

🌸 Kaya itu soal mentalitas 🌸 

Bertambahnya penghasilan bukan jaminan bertambahnya kekayaan secara otomatis karena kekayaan itu tergantung dari berapa banyak dari penghasilan yang kita investasikan. Banyak orang terjebak dalam lingkaran kemiskinan karena ketika penghasilan naik, naik pula pengeluaran gaya hidupnya. Naik pula kreditannya mulai dari baju, mobil, rumah, dll, untuk memenuhi gaya hidup "terlihat kaya".

Benar kata pepatah:

🌸 Money cannot buy you a class 🌸

Hanya karena kita dapat rejeki nomplok bukan berarti kita langsung masuk kelas atas orang kaya secara otomatis. Banyak cerita pemenang lotere jutaan dollar kembali jatuh miskin setelah foya foya. Menjadi orang kaya kelas atas membutuhkan ilmu. Mempertahankan kekayaan pun butuh ilmu. Dan tentu saja harus memiliki mental kaya terlebih dulu.

Semangat menuju #financialfreedom

Love from USA,
Dewi Kreckman

Indonesia GDP Annual Growth Rate

METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF

WORKSHOP PENGGUNAAN MENDELEY & PKM 2020

Post Top Ad