Cerdas Finansial: Belajar dari Kisah Para Pensiunan

Cerdas Finansial: Belajar dari Kisah Para Pensiunan




Kisah Pak Eko dan Bu Ida Djamil tentang Para Pensiunan

Ibu Ida:
"Pak eko, saya ada pertanyaan dari pendengar ttg perencanaan keuangan stl pensiun, selama ini yang saya pelajari adalah perencanaan keuangan keluarga untuk menghadapi masa pensiun, lha kalau sudah pensiun ..perencanaanya seperti apa pak. Padahal usia seperti ini kan juga sudah tdk produktif. Kebanyakan orang sadar persiapan pensiun kan juga mendekati masa pensiun. Adakah panduan perencanaan keuangan masa pensiun.

Dan banyak contoh ..usaha pada saat pensiun kebanyakan rugi bahkan ditipu. Ada saudara pensiun dpt pesangon ratusan juta, dipakai bisnis ..ujung ujungnya uangnya dibawa lari sahabatnya.
Bahkan teman ayah saya, uang tabungan selama kerja dibuat mendirikan bisnis, bangun pabrik, anak anaknya yang selama ini bekerja, disuruh keluar untuk membesarkan usahanya..tapi kasihan usahanya bangkrut. Rumah semuanya disita bank, anak anaknya sekarang pada cari kerja. Aset perusahaan dijual smp sekarang belum laku



Pak Eko:
"Betul...sehingga setelah pensiun harus tetap bekerja/usaha (mencari penghasilan baru), jika penghasilan pensiuny tdk bisa menutup pengeluaran bulanan.
Prinsipnya bagaimana mengelola keuangam agar kebutuhan hidup terpenuhi :
1. Atur /kurangi pengeluaran sesuai kemampuan finansial yang ada kalau penghasilan belum bisa ditingkarkan.
2. Upayakan cari pekerjaan baru/usaha utk meningktakan pendapatan.
3. Investasi/usaha bg pensiunan hrs yg risiko rendah, jika harapannya utk mendatangkan tambahan pendapatan rutin bulanan. Namun risiko yg rendah hasilnya juga pasti rendah. Ini.yg menyebabkan mereka sering tergiur/ditipu oleh iming-2 hasil besar investasi bodong.
4. Membuka usaha yg benar-2 baru dr awal bagi pensiunan sangat berisiko, krn puluhan tahun sebgai pekerja sangat bereda dan tdk mudah merubah karakter menjadi pengusaha.

Kisah-2 sedih pensiuan banyak sekali. Salah satu survey mengataka hanya 10% yg siap  pensiun dan mandiri secara finasial. 49% bergantung pada anak. Ini semua karena sedikut sekali yg sadar dan mempersiapkan secara pribadi jauh-2 hari...

Ibu Ida:
"Iya pak, kmr juga bawakan materi ttg penelitian limra yang mengatakan org diatas usia 65 tahun, hanya 5% yang sejahtera, lainnya 49% msh tgt pada orang lain, 5% msh bekerja untuk memenuhi kebut hidupnya,  trus kalau sdh pensiun bagaimana cara mengaturnya?...kalau sdh punya uang ya sebagian di deposito sebagian dipakai usaha, jangan semua di pakai usaha ya pak

Hrs ada dana darurat bagaimanapun, kalau usaha ya usaha yang sesuai hobi atau passionnya, begitu kan pak? Soalnya setahu saya pada saat pensiun hutang kan harus nol. Jadi orang pensiun kalau usaha ya tdk berhutang, tapi sebagian dari asetnya saja..apakah betul spt ini pak eko jawabannya?

Pak Eko:
"Prinsip-2 tata kelola keuangan tdk  berubah jika ingin sehat secara finansial: pengeluaran < penghasilan, ada dana darurat, proteksi asuransi, utamakan kebutuhan di atas keinginan. Hutang tidak harus nol spanjang mampu bayar dan digunakan secara produktif. Usaha jika masih di awal dan belum tahu kepastian penjualannya dan belum tahu mampu bayarnya sebaiknya tdk dimodali dr berhurang. Namun jika sdh mulai berkembang, ada kepastian order/penjualan dan kepastian utk lmenbayar cicilan, boleh saja berhutang utk usaha."













Post a Comment

0 Comments