INTERAKSI ANTARBUDAYA DALAM ERA DIGITAL

INTERAKSI ANTARBUDAYA DALAM ERA DIGITAL

Salah satu tantangan terbesar dalam era digital adalah interaksi antarbudaya. Bagaimana anda melihat fenomena ini khususnya berkaitan dengan interaksi komunikasi di dunia maya?

Pada era digitalisasi, semua informasi mengenai fenomena di sekitar dapat terintegrasi dan terdistribusi dengan sangat cepat hanya dalam hitungan detik bahkan milidetik. Semua orang dari berbagai lapisan masyarakat bersinergi untuk membagikan informasi yang mereka dapatkan bahkan dari lingkungan terdekat mereka dengan tujuan adanya transparansi informasi maupun kebebasan berpendapat. Tidak ada gap yang dapat menghentikan penyebaran informasi ini namun, tantangan dalam penyebaran informasi dapat menuai banyak kontroversi. Salah satu tantangannya, yaitu interaksi antarbudaya. Indonesia, negara multikultural, memandang hal ini sebagai tantangan besar bagaimana informasi yang diberitakan dapat tepat sasaran, tanpa merujuk pada kepentingan pihak tertentu sebagai prioritas.

Contoh kasus yang terjadi, seperti pada fase pemilihan calon presiden dan calon wakil presiden pada tiap periode yang dilakukan masyarakat pada jejaring sosial, seperti Twitter, Facebook, dan Instagram. Lingkungan masyarakat daerah A memandang pasangan calon AA lebih baik dan begitu juga sebaliknya lingkungan masyarakat daerah B memandang pasangan calon BB lebih baik. Masing-masing pendukung melakukan kampanye politik yang sifatnya persuasif hingga agresif yang bahkan bisa menjatuhkan profil pihak lawan dengan menyebarkan berita hoaks untuk mendukung pasangan calon pilihan. Lalu, mengapa hal tersebut bisa terjadi? Jawabannya beragam namun tentu saja efek besar dari budaya lingkungan yang terpapar serta kebebasan bersuara yang cukup liberal pada era reformasi kini.

Perbedaan pendapat pada dunia maya juga tidak luput dari miskomunikasi dan misinformasi sosial yang dampaknya dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat. Informasi yang didapatkan suatu personal dengan personal lainnya bisa jadi berbeda dikarenakan lingkungan yang terpapar merujuk pada suatu pandangan tertentu, terlebih lagi dunia maya mengolah semua data pengguna berdasarkan algoritma kebutuhan media sosial mereka maka, hal itu cukup berdampak buruk bagi pola kehidupan masyarakat, terlebih pada masyarakat yang masih belum melek atas kebenaran informasi yang ada. Hal ini semakin mengerucuti pandangan mereka yang menurut mereka paling baik, sehingga terjadilah ketersinggungan hingga kericuhan pada masyarakat kini.

Namun, di balik semua tantangan tersebut, ada solusi yang cukup solutif dalam mengantisipasi singgungan yang terjadi pada media sosial, yaitu pendidikan dini mengenai etika dalam dunia digital, budaya melek hoaks, dan peran serta pemerintah dalam menanggulangi penyebaran hoaks, khususnya pada server nasional.

Post a Comment

0 Comments