Lepas Kendali di Media Sosial

Lepas Kendali di Media Sosial

 

Lepas Kendali di Media Sosial

 “We expect more from technology and less from each other.” — Sherry Turkle

Ini pendapat pribadi saya tentang viralnya kasus 16 Mahasiswa UI yang sangat viral di media sosial. Semoga hal ini menjadi pembelajaran bagi kita semua untuk selalu bijak dalam bermedia sosial. Saya berkomentar dari sisi saya sebagai pekerja media sosial selama 14 tahun.

Kasus viral yang menimpa 16 mahasiswa Universitas Indonesia akibat candaan vulgar menjadi cermin penting tentang etika komunikasi di era digital. Di tengah kemajuan Society 5.0, teknologi dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, namun tanpa kematangan pribadi dan kebijaksanaan, justru dapat menimbulkan dampak negatif.

Salah satu pertanyaan yang muncul adalah: apakah WhatsApp Group termasuk media sosial? Secara fungsi, WhatsApp merupakan platform komunikasi privat, tetapi dalam praktiknya—terutama dalam grup— alat ini memiliki karakteristik media sosial karena memungkinkan interaksi kolektif, pertukaran informasi, dan potensi penyebaran konten secara luas yang didominasi melalui kata-kata. Oleh karena itu, setiap percakapan di dalamnya harus diperlakukan dengan penuh tanggung jawab.

Fenomena ini juga menyoroti bahaya body shaming dan candaan vulgar yang sering dianggap wajar. Obrolan online tanpa tatap muka sering kehilangan empati karena hanya berbentuk teks. Akibatnya, pesan mudah disalahartikan (misinterpretation), dan percakapan yang awalnya dianggap “bercanda internal” dapat berujung pada pelecehan ketika tersebar ke publik. Dampaknya sangat serius, terlebih karena jejak digital tidak dapat dihapus sepenuhnya.

Tidak adanya pengawasan langsung di WhatsApp, seperti kebijakan moderasi pada platform publik seperti X atau Instagram, membuat pengguna merasa lebih bebas. Namun kebebasan ini sering disalahartikan sebagai ruang tanpa batas. Tanpa emotional awareness, komunikasi berubah menjadi sekadar respons spontan tanpa pengendalian situasi. Ketika kesadaran emosional tidak hadir, seseorang sulit memahami benar atau salah dari sudut pandang orang lain, sehingga konflik mudah terjadi.

Lebih jauh lagi, keinginan untuk mendapatkan validasi sosial sering mendorong individu melontarkan komentar berlebihan, baik secara sadar maupun tidak. Jika tidak dikendalikan, kondisi ini dapat membuat seseorang lepas kendali di dunia digital. Oleh karena itu, komunikasi digital menuntut kedewasaan, empati, dan kecerdasan emosional.

Bijak dalam bermedia sosial berarti berpikir sebelum mengetik, menjaga etika, serta menghormati martabat orang lain. Prinsip sederhana seperti jeda sebelum merespons dapat mencegah penyesalan di kemudian hari. Dengan demikian, teknologi di era Society 5.0 benar-benar menjadi sarana yang memanusiakan manusia, bukan sebaliknya.

“Before you speak, think; before you post, reflect.” — Stephen R. Covey

Hormat Saya,

Post a Comment

0 Comments