Mengulas The Art of Spending Money.

Mengulas The Art of Spending Money.

Pemahaman mengenai uang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan ekonomi, tetapi juga erat dengan pembentukan karakter. Dalam The Art of Spending Money karya Morgan Housel dijelaskan bahwa manusia sering terlalu fokus pada cara memperoleh dan menumbuhkan uang, namun jarang memikirkan bagaimana menggunakannya secara bermakna. Padahal kualitas hidup lebih ditentukan oleh cara menggunakan uang dibanding jumlah uang yang dimiliki. Gagasan ini relevan dengan pendidikan karakter kewarganegaraan di BINUS University, yang menekankan pembentukan mahasiswa sebagai individu berintegritas, bertanggung jawab, dan memiliki kesadaran sosial.

Housel menekankan bahwa uang seharusnya menjadi alat, bukan tujuan hidup. Banyak orang mengejar status sosial melalui kepemilikan barang mewah, padahal yang sebenarnya mereka cari adalah rasa hormat dan pengakuan dari orang lain.

Dalam konteks pendidikan kewarganegaraan, mahasiswa BINUS diajak memahami bahwa identitas diri tidak dibangun oleh simbol materi, tetapi oleh nilai moral, empati, serta kontribusi terhadap masyarakat. Mahasiswa yang memahami hal ini akan lebih mampu menahan diri dari perilaku konsumtif berlebihan dan lebih memilih tindakan yang memberi manfaat sosial.

Konsep lain yang penting adalah bahwa setiap perilaku manusia memiliki latar belakang. Housel menyatakan bahwa tidak ada satu cara benar dalam menggunakan uang karena setiap orang memiliki kondisi sosial dan pengalaman hidup berbeda. Prinsip ini sejalan dengan pendidikan kewarganegaraan yang menanamkan toleransi dan empati. Mahasiswa diajak tidak mudah menghakimi gaya hidup orang lain, melainkan memahami konteksnya. Dengan demikian terbentuk sikap saling menghargai dalam masyarakat multikultural seperti di lingkungan kampus BINUS.

Lebih lanjut, Housel memperkenalkan gagasan reverse obituary, yaitu hidup berdasarkan bagaimana kita ingin dikenang. Ukuran kesuksesan bukanlah harta, melainkan seberapa banyak orang yang merasakan manfaat dari kehadiran kita.

Nilai ini sangat dekat dengan tujuan BINUS dalam membentuk global citizens — individu yang tidak hanya cerdas akademik tetapi juga memiliki kepedulian sosial. Mahasiswa diarahkan untuk berpikir jangka panjang: bukan sekadar mengejar karier dan pendapatan, tetapi juga dampak positif bagi komunitas.

Refleksi Housel menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati berasal dari relasi, waktu bersama keluarga, dan percakapan bermakna, bukan dari pengeluaran terbesar. Ini menumbuhkan karakter moderasi dan pengendalian diri, yang penting dalam kehidupan demokratis. Warga negara yang mampu mengendalikan diri secara ekonomi cenderung lebih rasional dalam mengambil keputusan publik, tidak mudah terpengaruh populisme, serta mampu bertindak bertanggung jawab.

Dengan demikian, pembelajaran literasi finansial tidak hanya membentuk kecakapan ekonomi tetapi juga karakter kewarganegaraan. Mahasiswa BINUS yang memahami “seni menggunakan uang” akan berkembang menjadi pribadi yang jujur, sederhana, empatik, dan berorientasi kontribusi. Mereka tidak sekadar mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga memikirkan kebermanfaatan sosial — sebuah fondasi penting bagi terciptanya masyarakat yang beradab dan berkelanjutan.

Post a Comment

0 Comments