Fenomena FOMO (fear of missing out) membeli emas di kalangan Gen Z tergolong wajar ketika harga emas Antam melonjak hingga sekitar Rp3,027 juta per gram (per 2 Februari 2026). Kenaikan harga ini menciptakan dorongan psikologis untuk “ikut-ikutan” berinvestasi, baik melalui pembelian emas fisik 5 gram maupun lewat platform digital seperti Tring! by Pegadaian. Di satu sisi, minat investasi ini menunjukkan kesadaran finansial yang mulai tumbuh; namun di sisi lain, FOMO juga menyimpan risiko keputusan impulsif tanpa pemahaman yang matang.
Dari aspek keamanan, aplikasi seperti Tring! relatif dapat dipercaya karena dikelola oleh PT Pegadaian, sebuah BUMN yang berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Emas yang dibeli melalui platform ini dijamin memiliki wujud fisik, disimpan di brankas dengan standar keamanan tinggi, serta dapat ditarik dalam bentuk fisik kapan saja. Hal ini membedakannya dari platform tidak resmi yang hanya menawarkan “emas digital” tanpa kejelasan aset dasar. Prinsip penting bagi investor pemula adalah memastikan penyedia layanan berizin, transparan, dan benar-benar memiliki emas fisik sebagai underlying asset.
Dalam perspektif hukum Islam, transaksi emas digital dinilai halal selama memenuhi ketentuan syariah. Mengacu pada Fatwa DSN-MUI No. 77/DSN-MUI/V/2010, jual beli emas diperbolehkan sepanjang akadnya jelas, tidak mengandung riba, tidak bersifat spekulatif, dan kepemilikan emasnya nyata. Produk emas digital yang dikelola Pegadaian Syariah umumnya telah disesuaikan dengan ketentuan ini, sehingga dapat dikategorikan mubah.
Namun, persoalan utama bukan semata soal aman atau halal, melainkan karakter keuangan. Dalam The Psychology of Money, Morgan Housel menegaskan bahwa keputusan finansial lebih sering didorong emosi daripada logika. FOMO adalah cerminan keserakahan dan ketakutan tertinggal, yang kerap melahirkan gelembung ekonomi. Emas memang dikenal sebagai aset lindung nilai, tetapi membeli saat harga tinggi tanpa perhitungan juga berisiko.
Karena itu, pendidikan karakter keuangan menjadi krusial. Nilai-nilai seperti kesabaran, pengendalian diri, literasi, diversifikasi, dan orientasi jangka panjang harus dibangun sejak dini. Gen Z perlu memahami bahwa tujuan investasi bukan cepat kaya, melainkan menjaga stabilitas dan kebebasan finansial. Membeli emas boleh saja, tetapi harus dilandasi kesadaran, bukan sekadar ikut arus. Inilah langkah dewasa menuju keuangan yang berkelanjutan.
Harga emas yang lagi naik-naiknya sekarang memang bikin banyak orang, khususnya Gen Z dan Gen Y, kena FOMO. Di kantor, kelihatan banget teman-teman mulai rame beli emas. Ada yang beli emas fisik 5 gram, ada juga yang langsung masuk ke aplikasi emas digital seperti Tring dari Pegadaian. Praktis, tinggal klik, langsung punya emas. Tapi pertanyaannya: aman nggak sih? Dan kalau dilihat dari sisi Islam, halal atau nggak?
Kalau ngomongin keamanan, emas digital itu sebenarnya bisa aman, asal kita pakai aplikasi yang jelas dan terpercaya. Intinya simpel: penyedia aplikasinya harus beneran punya emas fisik, bukan cuma angka di layar. Pegadaian sendiri adalah BUMN dan diawasi OJK, jadi secara sistem dan legalitas relatif lebih aman dibanding platform abal-abal. Tapi masalahnya bukan cuma di aplikasinya—masalah besarnya ada di literasi keuangan kita. Banyak yang beli emas digital bukan karena ngerti, tapi karena ikut-ikutan tren. Lihat timeline rame, langsung masuk, tanpa mikir tujuan keuangannya apa.
Nah, di sinilah pentingnya pendidikan karakter keuangan. Punya uang dan bisa investasi itu satu hal, tapi punya karakter finansial itu level berikutnya. Karakter keuangan ngajarin kita buat nggak impulsif, nggak gampang panik, dan nggak gampang kebawa FOMO. Investasi seharusnya bukan karena “takut ketinggalan”, tapi karena sadar kebutuhan dan rencana jangka panjang.
Dari sisi Islam, emas termasuk barang ribawi, jadi jual belinya ada aturannya. Mayoritas ulama membolehkan emas digital selama emasnya benar-benar ada secara fisik, kepemilikannya jelas, dan bisa ditarik atau dicetak kapan saja. Artinya, beli emas digital itu halal kalau kita beli emas fisik lewat sistem digital. Tapi kalau cuma main angka, spekulasi, atau nggak jelas emasnya ada atau nggak, itu baru jadi masalah.
Buat Gen Z dan Gen Y, melek finansial itu penting, tapi berkarakter secara finansial jauh lebih penting. Bijak sebelum beli, ngerti sebelum investasi, dan sadar bahwa uang itu alat, bukan tujuan. Kalau karakter keuangan kita kuat, FOMO bisa dikontrol, investasi jadi sehat, dan keuangan tetap waras ✨























0 Comments