[Artikel Mini] Paideia: Proses pembentukan manusia secara menyeluruh

[Artikel Mini] Paideia: Proses pembentukan manusia secara menyeluruh

Ada seorang dosen membacakan surat untuk istrinya didepan banyak orang saat pengukuhan dirinya sebagai seorang profesor: tiada kekayaan yang lebih utama daripada akal, tiada keadaan yang lebih menyedihkan daripada kebodohan, dan tiada warisan yang lebih baik daripada pendidikan.

Ungkapan “tiada kekayaan yang lebih utama daripada akal, tiada keadaan yang lebih menyedihkan daripada kebodohan, dan tiada warisan yang lebih baik daripada pendidikan” mengandung pandangan mendalam tentang hakikat manusia dan arah pembentukan peradaban. Ungkapan ini sejalan dengan konsep paideia, sebuah gagasan klasik yang memandang pendidikan sebagai proses pembentukan manusia secara menyeluruh—akal, karakter, dan moralnya.

Akal disebut sebagai kekayaan paling utama karena dengannya manusia mampu berpikir rasional, memahami makna hidup, serta mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Dalam kerangka paideia, akal bukan sekadar alat untuk mengetahui, tetapi sarana untuk menjadi manusia yang utuh. Harta, kekuasaan, dan status sosial dapat lenyap, tetapi akal yang terdidik akan terus membimbing manusia menghadapi perubahan dan tantangan kehidupan.

Sebaliknya, kebodohan merupakan keadaan yang paling menyedihkan. Kebodohan tidak hanya berarti ketiadaan pengetahuan, tetapi juga kemandekan akal dan karakter. Manusia yang tidak mengalami proses paideia mudah terjebak pada prasangka, emosi sesaat, dan manipulasi. Ia kehilangan kemampuan berpikir kritis dan kepekaan moral, sehingga hidupnya mudah diarahkan oleh kepentingan orang lain.

Oleh karena itu, pendidikan menjadi warisan terbaik yang dapat ditinggalkan. Pendidikan dalam makna paideia bukanlah sekadar pewarisan ijazah atau keterampilan teknis, melainkan warisan nilai, cara berpikir, dan kebijaksanaan hidup. Pendidikan seperti ini tidak akan usang oleh waktu, karena ia hidup dan tumbuh bersama manusia yang menerimanya.

Bagi generasi muda Gen Z yang hidup di tengah arus digital, banjir informasi, dan perubahan sosial yang cepat, implementasi paideia menjadi sangat relevan. Gen Z tidak cukup hanya dibekali kemampuan teknologi dan kecepatan akses informasi, tetapi perlu diarahkan untuk mengolah informasi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab. Paideia mengajak Gen Z untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan subjek yang sadar dan berdaulat atas pikirannya.

Implementasi paideia bagi Gen Z dapat diwujudkan melalui kebiasaan belajar yang reflektif, dialog terbuka, keberanian bertanya, serta kemampuan menyaring nilai di tengah media sosial. Pendidikan harus mendorong Gen Z untuk mengenal dirinya, menghargai perbedaan, berempati, dan terlibat aktif dalam persoalan sosial di sekitarnya. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya mencetak individu yang kompeten, tetapi juga warga masyarakat yang berkarakter.

Pada akhirnya, yang perlu dibangun dalam pendidikan karakter manusia—terutama bagi Gen Z—adalah kesatuan antara kecerdasan akal, kematangan emosional, dan keluhuran budi. Ketika paideia benar-benar hadir dalam pendidikan, Gen Z akan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas dan adaptif, tetapi juga bijaksana, beretika, dan mampu menjaga martabat kemanusiaan di tengah dunia yang terus berubah.

  

*Paideia berarti proses pembentukan manusia secara menyeluruh—bukan hanya mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk karakter, moral, kebijaksanaan, dan keutamaan hidup. Dalam filsafat Yunani Kuno, paideia dipandang sebagai kekayaan tertinggi manusia dan warisan paling berharga bagi peradaban.

Post a Comment

0 Comments