Februari 2026: Gen Z dikenal sebagai generasi yang digital-native, emosional-fluent, dan value-driven.

Februari 2026: Gen Z dikenal sebagai generasi yang digital-native, emosional-fluent, dan value-driven.

“Education as the practice of freedom is not just about teaching; it is about creating the conditions for learning.” — bell hooksTeaching to Transgress: Education as the Practice of Freedom

Selamat datang 2026. Gen Z adalah mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 dan usia Gen Z saat ini (tahun 2025) berkisar dari sekitar 13 hingga 28 tahun, mencakup pelajar, mahasiswa, hingga profesional muda. 

 Laporan Indonesia Millennial & Gen Z Report 2026 menunjukkan bahwa pendidikan karakter bagi Generasi Gen Z tidak dapat dilepaskan dari konteks perubahan sosial, ekonomi, dan digital yang mereka alami sejak dini. Gen Z—baik sebagai pelajar, mahasiswa, maupun profesional muda—tumbuh dalam dunia yang ditandai oleh ketidakpastian ekonomi, tekanan sosial digital, serta tuntutan untuk hidup lebih sadar dan bermakna. Dalam situasi ini, karakter tidak lagi dibentuk terutama oleh instruksi formal, melainkan melalui pengalaman hidup, refleksi emosional, dan nilai yang mereka hidupi secara nyata.

Gen Z dikenal sebagai generasi yang digital-native, emosional-fluent, dan value-driven. Mereka terbiasa mengekspresikan perasaan, menetapkan batas emosional, serta mempertanyakan norma yang tidak lagi relevan dengan realitas hidup mereka. Pendidikan karakter bagi Gen Z, karena itu, perlu menekankan pengembangan kesadaran diri, empati, dan kemampuan reflektif, bukan sekadar kepatuhan atau pencapaian akademik. Nilai seperti integritas, tanggung jawab, dan kepedulian sosial tumbuh ketika mereka merasa didengar, dipahami, dan dilibatkan sebagai subjek pembelajaran, bukan objek didikan.

Laporan ini juga menyoroti bahwa Gen Z memandang pendidikan dan karier secara skeptis namun pragmatis. Banyak pelajar dan mahasiswa Gen Z menuntut pembelajaran yang relevan, aplikatif, dan selaras dengan tujuan hidup mereka. Bagi profesional muda, karakter tercermin dalam cara mereka mendefinisikan kesuksesan—bukan lagi semata jabatan atau status, melainkan keselarasan antara nilai pribadi, kesejahteraan mental, dan kontribusi sosial. Dalam konteks ini, pendidikan karakter harus mendorong tanggung jawab personal, etos belajar sepanjang hayat, serta keberanian untuk beradaptasi tanpa kehilangan kompas moral.

Aspek penting lain adalah meningkatnya kesadaran Gen Z terhadap kesehatan mental dan keseimbangan hidup. Mereka memandang perawatan emosional sebagai kebutuhan dasar, bukan kelemahan. Hal ini menuntut sistem pendidikan dan dunia kerja untuk menanamkan karakter berbasis empati, regulasi emosi, dan daya tahan psikologis. Karakter manusia tidak dibentuk melalui tekanan berlebihan, melainkan melalui lingkungan yang aman secara emosional dan konsisten secara nilai.

Pendidikan karakter bagi Generasi Gen Z harus bergeser dari pendekatan normatif ke pendekatan kontekstual dan humanis. Karakter tidak diajarkan sebagai kewajiban moral semata, tetapi dibangun sebagai fondasi hidup sadar—yang membantu Gen Z menavigasi pendidikan, karier, dan kehidupan sosial dengan tujuan, tanggung jawab, dan makna.

 


 

Post a Comment

0 Comments