Tantangan literasi di kalangan Gen Z sering disalahartikan sebagai menurunnya minat membaca. Padahal, berdasarkan berbagai temuan dan pola konsumsi media digital, masalah utamanya bukan pada keengganan membaca, melainkan pada ketidakrelevanan isi bacaan dengan realitas hidup mereka serta cara penyajian yang tidak selaras dengan “habitat” digital Gen Z. Generasi ini tumbuh dalam ekosistem yang cepat, visual, dan interaktif. Mereka terbiasa mengakses pengetahuan melalui potongan informasi yang kontekstual, personal, dan langsung terhubung dengan pengalaman hidup sehari-hari.
Dalam konteks pendidikan karakter manusia, literasi seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan teknis membaca teks, tetapi sebagai proses membangun kesadaran, empati, daya kritis, dan nilai moral. Gen Z sebenarnya memiliki ketertarikan kuat terhadap pembelajaran yang membantu mereka memahami diri sendiri, relasi sosial, kesehatan mental, tanggung jawab, serta makna hidup. Ketika bacaan mampu menjawab kegelisahan tersebut—bukan sekadar menyampaikan teori normatif—maka membaca menjadi aktivitas reflektif yang bermakna, bukan kewajiban akademik semata.
Pendidikan karakter yang efektif di era digital menuntut pendekatan yang kontekstual dan manusiawi. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan ketahanan diri perlu dikemas dalam narasi yang dekat dengan realitas Gen Z: tekanan hidup, ketidakpastian masa depan, relasi keluarga, hingga tantangan etika di dunia digital. Di sinilah literasi berperan sebagai alat pembentukan karakter—membantu individu mengambil keputusan yang lebih sadar, beretika, dan berorientasi pada kebaikan bersama.
Selain itu, medium penyampaian menjadi faktor krusial. Gen Z lebih mudah tertarik pada konten yang dimulai dari potongan pendek, emosional, dan autentik, lalu diarahkan ke bacaan yang lebih mendalam. Proses ini membangun jembatan antara kebiasaan digital dan refleksi intelektual. Dengan kata lain, literasi tidak harus berdiri berlawanan dengan media sosial, tetapi dapat tumbuh melalui integrasi yang cerdas dan beretika.
Kesimpulannya, penguatan literasi untuk pendidikan karakter manusia di kalangan Gen Z memerlukan perubahan paradigma. Fokusnya bukan lagi memaksa membaca, melainkan menghadirkan bacaan yang relevan, bernilai, dan dikemas sesuai dengan dunia mereka. Ketika membaca diposisikan sebagai sarana memahami diri dan membentuk karakter, literasi akan kembali menemukan maknanya dalam kehidupan generasi muda.























0 Comments